Minggu, 16 Januari 2011

Nongkrong di Oase-nya Solo


Beberapa hari yang lalu, aku berkesempatan mampir ke sebuah boutique hotel di Solo, Rumah Turi. Bukannya mau nginep lho, secara rumahku saja masih di lingkungan Subosukawonosraten. Yah, cuma ada janjian ketemu saja dengan kenalan.
Oke, bukan soal janjian dengan temanku yang bakal aku ceritain di sini. Karena ngerti banget kan, pasti isinya cuma ngobrol ngalor ngidul nggak jelas. Aku pengen ngobrolin Rumah Turi-nya.
Dilihat dari luar, hotel ini sudah kliatan asri banget. Dan sesuai namanya, ada beberapa pohon turi ditanam di depan. Masuk pertama, kita diajak ke area publik yang kalo di rumah Jawa pasti fungsinya bakal sama dengan pendhopo. Ruangannya terbuka (tanpa pintu, maksudku), dengan view ke taman yang didominasi tumbuhan jenis rumput-rumputan yang sempat aku kira padi ternyata tumbuhan akar wangi. Di atas tanaman akar wangi tersebut dibangun rigging terbuka. Untuk special occasion, ternyata area tersebut difungsikan sebagai panggung. Pemanfaatan ruang yang cerdas banget, kan?
Kembali ke ‘pendhopo’, ada beberapa set meja kursi di sono. Tempatnya nggak pernah benar-benar sepi, karena selama beberapa jam aku nongkrong, ada saja kelompok dan komunitas kecil yang ngobrol sambil menikmati minuman. Setelah tanya-tanya, ternyata Rumah Turi memang cuma menyediakan minuman dan menu sarapan serta snack. Hotel ini nggak neko-neko, karena pengoperasian pantry bisa dilakukan staf yang mana saja. Sedang jika punya resto, mereka musti siap dengan chef serta asisten-asistennya.
Puas nongkrong di ‘pendhopo’, aku diperbolehkan ngintip taman dan kamar (ada 3 tipe: standard, deluxe, suit). Taman Rumah Turi? Wow, fantastis. Tadi aku sudah cerita tentang space yang cukup luas berisi tanaman akar wangi. Nah, di pinggirannya, kamu masih bakal nemu area untuk rumput pendek rapi dan palung yang difungsikan sebagai kolam lengkap dengan teratai. Lalu jika kamu mampir ke Rumah Turi dan sempat naik tangga samping, kamu bakal diarahkan ke kebun di atas ‘pendhopo’. Isinya selain rumput, ada pohon-pohon ketimun dengan buah bergelantungan imut, trus ada juga pohon markisa (yang ini pas aku berkunjung belum berbuah), ada pohon cabe, sawi ... turi juga ada lagi di atas. Di bawah dek jembatan penghubung bangunan, ada lorong. Setelah aku tanyakan ke Pak Paulus owner hotel, ternyata lorong itu fungsinya untuk mengoperasikan jendela 'pendhopo'. Jadi yang tadi aku bilang “ruangan terbuka dengan view ke taman bla bla bla” ternyata bisa ditutup, dengan pengoperasian dari lorong ini. Eh, tanam-tanaman di kebun atas ini bukan cuma hiasan lho. Tapi hasilnya digunakan untuk garnish juga.
Puas dengan kebun, aku minta Yuli-butler supervisor Rumah Turi untuk melanjutkan ke kamar. Yah, secara fasilitas sih nggak jauh beda dengan hotel-hotel bintang 3. Ada kamar mandi pake shower, bed dengan penataan yang apik, tv, lemari, minibar, dll dll. Yang membuatku tertarik adalah bagaimana konsep green diterapkan sampai ke pilihan jenis kamar mandi (biar irit air, nggak pake bath up), temboknya yang memanfaatkan cuil-cuilan kayu, dan cat tembok luar yang menggunakan gerusan genteng.
Konsep green ini tidak berhenti sampai di situ saja. Aku salut dengan pemahaman yang dimiliki karyawan dalam perawatan gedung. Kayaknya konsep yang dimiliki owner, bisa ditransfer tanpa banyak distorsi sampai ke tingkat terbawah. Karena kalo buatku, green kan bukan cuma dari tampak luar dan bangunannya. Suasana dan penerapannya di keseharian akan memengaruhi kesuksesan implementasi konsep. Contohnya nih: tidak banyaknya jumlah karyawan di hotel ini. Dengan jumlah kamar (saat ini) yang 18 ruang dan halaman yang cukup rumit, Rumah Turi ‘cuma’ dijalankan oleh 16 karyawan. Itu karena mereka menerapkan bahwa semua orang harus bisa dan siap jadi butler jika dibutuhkan. Dan jangan kira bakal ketemu tampang bersungut-sungut atau hospitality standar hotel lho ya. Nggak ada tuh. Semua orang di sini ramah dan welcome ke tamu, baik itu tamu nginep atau tamu yang cuma ngerecokin macam aku :D. penerimaan mereka ke tamu juga ramah apa adanya, bukan yang mundhuk-mundhuk penuh polesan. Teman banget deh pokoknya.
Waktu itu aku yang datang dengan seorang teman, malah ngobrol santai dengan Pak Paulus, Yuli, dan Pak Aris GM Rumah Turi. Pulangnya, Bu Julia (istri Pak Paulus) yang sedang menerima tamu di meja lain malah sempat ikut mengantar sampai ke halaman.
Jadi alih-alih mendapat layanan copy paste hotel yang kerasa banget lipstik doang, di Rumah Turi, semuanya serba natural. Baik suasana, bangunan fisik, amupun keramahannya. Kalo bisa aku gambarkan, intinya penerapan sense of belonging di kalangan karyawannya pas banget.
Akhir kata, aku bilang sih hotel ini sangat mampu menerapkan sisi “Jawa” sebuah rumah tanpa harus menampakkan wujud fisik rumah Jawa. Lihat saja format layout bangunan yang masih menggunakan fungsi pendhopo, pringgitan, gandhok, dhimpil, dll. Itulah mengapa dari tadi aku nulis pendhopo aku beri tanda kutip. Habis, hotel ini menggunakan fungsi pendhopo, tapi tidak membangun bentuk pendhopo yang khas itu. Jadi ke-Jawa-an yang muncul di hotel ini lebih ke nilai intangible-nya, bahwa sebuah rumah harus membawa aura nyaman, bahwa kenyamanan bisa diciptakan jika kita “Jowo (paham)” kebutuhan orang lain (tamu), bahwa banyak tamu hotel yang merasa tidak nyaman dengan suasana hotel yang copy paste-maka mereka menciptakan hotel dengan suasana homey dan tenang.
Kalo aku musti nggambarin The Sunan Hotel Solo sesuai dengan namanya, justru suasana dan bangun seperti Rumah Turi ini lah yang sesuai. Suasana tranquil dan tenangnya "dunia antara" tergambar di sini. Serasa oase di tengah kota budaya yang semakin padat dan nggak sejuk ini.
Btw, wedang jahenya enak :D!!!

Untuk gambar hotelnya, aku memang nggak sempat motret, tapi dengan mudah bisa dilihat di sini kok:
http://www.rumahturi.com/index.html *

*Nggak kuat nahan diri untuk nguda rasa setelah menyerap keindahan.

Rabu, 15 Desember 2010

ANTARA LOGIKA DAN INTUISI


“Walau nilainya mepet, jangan masuk IPS lho Nduk,” kata seorang taxi driver saat cerita padaku tentang anaknya yang (katanya) pintar waktu akan penjurusan di SMA.
Si anak menjawab sambil mewek-mewek, “Jangan sampai deh masuk IPS! Nanti satu kelasnya sama anak-anak bodoh!”

Aku cengar-cengir sendiri mendengarnya. Mau mendebat kok gak worth it, mau membiarkan kok kayaknya gak suka saja dengan salah kaprah yang sudah berurat-akar ini. Hallo, aku sendiri lulusan IPS dan aku sama sekali gak bego ya.


Pemikiran akan aku seret ke kondisi yang aku lihat di sekolah-sekolah. Saat aku mencari informasi sekolah untuk Bob, sebagian besar (kalau tidak boleh aku bilang semua) sekolah membanggakan posisi mereka sebagai pemegang juara olimpiade sains, matematika, IPA. Jarang sekali sekolah yang membanggakan diri sebagai peraih penghargaan puisi, menulis, sastra.
Bagi sekolah dan para orangtua, menjadi yang terdepan di bidang sains jauh lebih membanggakan dibanding menjadi orang yang terasah jiwa seninya. Hal ini juga yang kayaknya akhirnya menjadi patokan para murid untuk berlomba-lomba masuk ke jurusan IPA (minat ataupun tidak). Karena IPA identik dengan otak encer.
Lebih baik mereka menjadi orang yang biasa-biasa saja prestasinya di kelas IPA daripada harus ditimpa malu karena berada di jurusan IPS.

Hal ini membuatku mengaitkannya dengan filosofi Timur yang sedang aku dengarkan saat ini (membuat transkrip seminar Etika Nusantara). Bagi filosofi Timur, posisi seniman berada lebih tinggi dari ilmuwan. Berbeda dengan filosofi Barat yang lebih menganggap logika sebagai hal yang paling penting.
Mengapa bagi Timur rasa lebih unggul dari logika?
Dalam filsafat Timur, ada tahapan mental di mana kehidupan sehari-hari dinalar dengan logika, sedang memaknainya dianggap sebagai gemanya. Gema ini tidak bisa ditangkap setiap orang,karena harus melalui proses pemurnian. Penyaringan, pemurnian, dan penangkapan makna inilah yang dilakukan oleh seniman.

Jadi yang aku pertanyakan sekarang fakta pemakaian pemikiran Barat bahwa logika adalah yang terpenting, saat kita masih sering mengunggul-unggulkan diri sebagai “Orang Timur” dengan “Etika Timur” yang selalu kita kaitkan kala melihat realitas yang dianggap di luar batas kesopanan standar.
Mengapa kita menggunakan standar ganda?
Saat membahas tentang keilmuan, kita selalu mengangap filosofi Barat yang benar (logika lebih tinggi posisinya dibanding rasa), sedang saat sedang membahas norma, kita selalu keukeuh berpegang pada etika yang kita anggap Etika Timur? Padahal kalau boleh mengingatkan, etika adalah produk dari “rasa”.

Aku kembalikan bahasan pada wilayah pendidikan. Aku sangat berharap adanya kesadaran untuk menempatkan pendidikan sebagai kendaraan untuk mencetak manusia yang lebih baik. Dan ini rasanya sangat membutuhkan pengertian dari pihak pendidik dan orangtua untuk lebih memerhatikan minat dan bakat sebagai acuan penilaian prestasi anak.
Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa kecerdasan perasaan sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan perasaan bisa lebih digali dengan “rasa”.
Jangan jadikan ilmu eksakta sebagai primadona, karena kita juga membutuhkan para ahli “rasa”.
Jangan paksa anak untuk mengakui keunggulan IPA saat akhirnya nanti mereka harus bertekuk lutut di jalur IPC karena memang di situ lah jurusan yang mereka inginkan, atau hanya agar bisa menyelamatkan kesempatan masuk ke universitas negeri. Lebih baik bekali anak dengan apa yang mereka suka dan mereka minati karena itu adalah hidup mereka, bukan alat bagi kita untuk menuai kebanggaan.

(Bob, pada saatnya kamu harus memilih, Mama pastikan Mama bakal mendukung apapun pilihanmu karena bagi Mama, kamu sempurna tanpa berlakunya syarat dan ketentuan)

Selasa, 09 November 2010

MUTLAKKAH HARGA KEPERAWANAN SAAT INI?


Tergelitik oleh postingan salah seorang blogger yang mempertanyakan “Keperawanan, Masihkah Jadi Harga Mutlak?”, aku kemarin mencoba jawab nulis di fitur reply-nya. Eh, ternyata ada sedikit hang yang malah bikin tulisanku hilang.
Baiklah, ini aku coba lagi tulis, tapi dengan media blog yang berbeda.

Keperawanan adalah bahasan yang selalu beredar. Mau kita bilang basi, nyatanya orang masih selalu memperbincangkan. Mau kita blow up, biasanya kaum perempuan akan menjadi pihak yang terugikan. Bagaimana tidak, hanya perempuan kok, yang bisa dituntut untuk berdarah-darah di malam pertamanya.

Kembali ke pertanyaan di atas, saat kita membahas tentang keperawanan, aku lebih senang jika mengelompokkan bahasan ke dalam empat dasar pemikiran. Masing-masing dasar pemikiran akan memengaruhi bagaimana cara kita memandang keperawanan itu sendiri.
1. Kesehatan
2. Agama
3. Sosial
4. Jender

Sebelumnya kayaknya perlu kita batasi dulu istilah keperawanan ini. Apakah benar yang namanya keperawanan adalah bahwa seorang gadis belum pernah “disentuh”, atau harus ada darah yang menitik sebagai buktinya? 
Mengapa batasan ini penting? Karena sobeknya selaput dara adalah penyebab menitiknya darah. Sayangnya, bentuk, kelenturan, dan ketebalan selaput dara ini berbeda-beda untuk masing-masing orang. Sehingga semakin lentur, tebal, dan kuat si selaput dara, akan semakin mengurangi kesempatan organ tersebut akan rusak dan berdarah pada saat tersentuh.
Jadi di sini batasan keperawanan itu akan menjadi bias. Jika akhirnya kita kembalikan istilah keperawanan itu ke keadaan di mana seorang gadis belum pernah “disentuh” sebelumnya, maka keperawanan tidak bisa dibuktikan, karena yang tahu hanya si gadis itu sendiri.
Nah, kalau sudah begitu, terserah deh buat yang mau mengartikan, ke mana keperawanan akan dibawa untuk diartikan. Karena pembahasan ini akan aku bawa lebih jauh lagi.

1. Dari sisi kesehatan, yang dicemaskan dari hubungan seksual adalah kehamilan yang tidak diharapkan, dan atau penularan penyakit yang hanya bisa ditularkan lewat kontak seksual. Jika kita bisa melakukan pencegahan secara maksimal dan bertanggung jawab saat melakukan setiap hubungan seksual, maka KEPERAWANAN TIDAK JADI HARGA MUTLAK.
2. Membicarakan keperawanan dari sisi agama, akan membuat jawaban menjadi KEPERAWANAN MASIH JADI HARGA MUTLAK. Mengapa? Jelas, karena agama apapun, akan selalu menuntut peresmian secara agama sebelum pasangan laki-laki-perempuan bisa melakukan hubungan seks. Jadi jelas suami (pertama) si perempuan yang akan mendapatkan keperawanan. Jika si laki-laki percaya pada si perempuan, berdarah atau tidak, ia akan meyakini keperawanan pasangannya. Jadi sekali lagi, semua kembali pada kejujuran dan kepercayaan, serta niat baik bahwa pernikahan termasuk bentuk ibadah.
3. Sekarang mari kita bahas dari sisi sosial kemasyarakatan. Penilaian masyarakat didasarkan pada norma. Norma tidak membawa sanksi yang mengikat dan membebani. Norma itu sendiri terbentuk dari pandangan masing-masing individu yang menjadi anggota masyarakat, yang akhirnya menjadi konsensus bersama. Pengawasan pelaksanaan norma dilakukan oleh anggota masyarakat sendiri. Jadi sepanjang pelanggaran norma tidak diketahui anggota masyarakat, pelaku pelanggaran bisa melenggang bebas. Sanksi pelanggaran norma (biasanya) adalah pengucilan. Masalahnya, penerapan norma berbeda-beda di tiap kelompok masyarakat. Jadi untuk kasus keperawanan ini, KEMUTLAKAN ATAU KETIDAKMUTLAKAN SANGAT BERGANTUNG KEPADA MASYARAKAT MANA YANG MENERAPKAN.
4. Sekarang mari kita bawa pembahasan ke sisi gender. Dari sisi ini, KEPERAWANAN ADALAH MUTLAK milik perempuan. Keperawanan adalah atribut yang menempel bersamaan dengan atribut keperempuanannya. Terserah dia untuk memberikan kepada siapapun yang menurutnya pantas menerima. Kapan, alasan, kepada siapa keperawanan itu diberikan, tidak akan mengurangi nilai keperempuanan yang ia miliki, dan tidak akan mengurangi kualitas diri. Tolong bedakan kehilangan keperawanan dengan prostitusi.

Bagi aku sendiri, menjaga keperawanan hingga memasuki pernikahan aku lakukan bukan sebagai persembahan kepada suami. Hal tersebut aku lakukan karena aku takut akan mengalami penyesalan. Penyesalan yang seperti apa? Lihat saja keempat kriteria penilaian kemutlakan atau ketidakmutlakan keperawanan yang ada di atas. 


Memandang keperawanan dari menetesnya darah hanya akan memarakkan bisnis operasi plastik pengembalian keperawanan. Maka kalau didesak lebih jauh, aku lebih suka mengupas keperawanan dari sisi gender. Karena di sini, berarti dunia mengakui kendali perempuan atas tubuhnya sendiri.



Minggu, 07 November 2010

Jangan Malu Mengaku Ego


Di tengah masyarakat kita, mengaku kalau memiliki ego kadang dianggap tabu. Karena orang yang memiliki ego kadang dilekati dengan predikat egois. Maka orang berlomba-lomba ingin menutupi egonya. Padahal jika kita mau mengembalikan ke arti sebenarnya, ego memiliki beberapa artian yang mendekati positif.

e·go (kata benda)
1. ide seseorang mengenai nilai penting dirinya biasanya ini tentang tingkatan yang dianggap tepat.
2. pelebih-lebihan nilai diri dan rasa superioritas dibanding orang lain
3. Dalam psikologi aliran Freudian, ego adalah satu dari tiga bagian utama dalam pikiran manusia, yang mengandung kesadaran dan memori dan dipengaruhi oleh kontrol, perencanaan, dan konfirmasi terhadap realitas
4. Diri individual, yang secara jelas terpisah dari dunia luar dan orang lain. (terjemahan bebas dari World English Dictionary)

Artiannya tidak buruk-buruk amat, kan?

Nah, di bawah ini adalah dua kejadian yang menurutku tepat dijadikan contoh di mana ego bermain-main.

Ada seorang teman di agency lain yang marah-marah, saat ia melihat print ad yang ia buat, tiba-tiba sudah diubah-ubah copy-nya. Dan si teman saat itu disodori print ad yang sudah dipermak copy-nya, karena ia diminta untuk tambah memermak lagi.
Temanku menolak. Ia bilang, “Maaf, aku nggak bisa, karena gayanya sudah beda.”

Pernyataan yang menunjukkan tingginya ego temanku, kan? Ia tidak mau merevisi, karena ada orang lain yang sudah merevisi juga sebelumnya. Ada orang lain yang sudah mengobrak-abrik pekerjaannya.

Tapi jangan salah, aku juga bakal bereaksi sama jika dihadapkan di situasi serupa. Mengapa?
Bekerja di Creative perusahaan periklanan, saat menghadapi sebuah campaign, kita selalu mengadakan brainstorming. Di proses ini semua orang yang masuk ke dalam tim akan urun ide, habis itu saling bantai ide, hingga akhirnya keluar dari ruang brainstorming, bukan cuma puyeng kepala yang didapat, tapi setidaknya konsep matang sudah di tangan. Setelah itu, dikembalikan ke masing-masing art director dan copywriter untuk mengolah konsep yang disetujui tim. Nah, hasil itulah yang dijadikan bahan presentasi ke klien. Kalau pada saat internal presentation ada masukan, atau kritikan, atau perubahan, sampaikan saja ke si pembuat. Karena dengan logika yang tepat, pasti masukan, kritikan, dan perubahan itu akan menyempurnakan konsep yang dibuat.
Dalam kasus temanku, selagi dia gak di tempat, ada yang melakukan perubahan copy yang dia buat. Karena menurut si pelaku copy-nya kurang tepat. Setelah bos melihat hasil perubahan, bos datang ke temanku untuk merevisi copy hasil revisi gelap juga. Jadinya sudah tangan ke berapa tuh?
Nah, di sini lah temanku menetapkan garis. Ia tidak bersedia merevisi karena ia merasa itu sudah bukan hasil buatannya.
Mungkin akan lebih tepat, kalau si bos membentuk tim baru untuk memberikan ide pembanding. Tim mandiri yang lepas 100% dari tim awal dengan ide-ide yang segar.
Sekarang, kalo temanku mutung dan sudah gak mau terlibat dengan kerjaan itu lagi, siapa yang bisa disalahkan?

Ada satu kasus lain lagi. Dalam sebuah perusahaan periklanan, alur pengerjaan order adalah:
AE>Creative (AD &CW)>approval CD>AE>Klien
Nah, saat ada pekerjaan pembuatan buletin yang sudah ada materinya, AE langsung masuk ke Graphic Designer untuk membuatkan layout. Proses selanjutnya seharusnya adalah copy proofing untuk mengecek ejaan, penggalan, dan tata bahasa. Karena AE memiliki ketidaksukaan pribadi kepada CW, maka ia bertekad mengerjakan sendiri copy proofing tersebut. CW melihat si AE melakukan pekerjaan yang seharusnya ia lakukan, tapi ia diam saja. Ia biarkan si AE repot mengedit, karena toh memang request pengerjaan tidak pernah ia terima, secara lisan atau pun tertulis. Si AE tahu kalau CW tahu ada pekerjaan itu dan diam saja.
Akhirnya ada pihak lain yang menegur si AE bahwa bukannya itu seharusnya dikerjakan CW?
Dan apa jawaban AE? Katanya, ia mengerjakan sendiri pekerjaan itu karena CW tak mau bantu.

Di sini aku ingin bicara tentang ego. Tidak banyak orang yang mau mengakui ia memiliki ego yang besar. Tapi dalam kasus-kasus di atas, ego memang kadang perlu dimunculkan. Ini hubungannya erat dengan proses penciptaan sendiri.
Kasus 1.
Saat kita membuat sesuatu, maka kita memiliki gambaran jelas tentang latar belakang, proses, dan tujuan pembuatannya. Saat orang lain memutus proses itu di belakang kita, apa dia mempertimbangkan latar belakang, proses, dan tujuan yang kita ambil? Apalagi seperti kasus teman itu, perubahannya di saat ia sedang tidak ada di tempat. Jadi bagiku sah-sah saja buat teman untuk memutuskan mundur dari tim campaign tersebut. Ia mempersilakan bosnya untuk menyelesaikan campaign itu tanpa keikutsertaan temanku itu.

Kasus 2.
Di kasus 2, ada 2 ego yang berkeliaran. Ego pertama muncul dari si CW yang keras kepala tak mau ikut copy proofing karena tidak ada request lisan/tertulis. Ego kedua muncul saat AE tahu bahwa CW tahu ia mengedit sendiri, sehingga itu membuahkan cap si CW tak mau bantu. Di sini, sudah jelas, mana telurnya mana ayamnya. Sehingga awal mula keruwetan bisa ditelusuri dengan mudah.

Ada ego yang dengan bangga dipertahankan. Ada ego yang bisa ditekan jika dipancing dengan sikap yang tepat. Ada pula ego yang sebaiknya dibuang karena menghambat pekerjaan.


Kamis, 04 November 2010

Saat hal "tidak penting" tiba-tiba menjadi urusan penting


“Kenapa sih kamu gak temenan dengan dia di Facebook?” tanya si A
Si B menjawab, “Wah, buatku tidak penting berteman dengan dia.”

Itu diucapkan si B tentang teman sekantornya, padahal semua teman sekantor ada di friends list-nya. Jadi buat si B, hanya satu orang itu saja yang “tidak penting”. Padahal, kalau boleh mengingatkan, bahkan tahu tentang Facebook saja dia kenalnya dari si “tidak penting”. Tahu tentang Friendster juga dari "tidak penting”. Jadi “tidak penting" ternyata memberi informasi dan pengetahuan yang penting kan?

Sekarang, begitu si “tidak penting” tahu alasan dia di-remove dari FB si B (meski fakta ter-remove sudah tahu sejak April 2009), dan berkata bahwa “ra kekancan ra patheken”, si B kebingungan sendiri dan bikin apologi bahwa alasan dia tidak berteman dengan “tidak penting” di FB karena “ingin meminimize bentrokan dan cara pandang yang berbeda”.

Hmm ... sekali lagi, itu hanya apologi. Karena toh seluruh orang kantor juga gak bakal punya pandangan yang sama. Kenapa juga hanya satu orang (dan suaminya) yang dia remove? Apa karena si "tidak penting” dulu beberapa kali minta uang taksi sebagai pengganti transpor lembur? Atau karena suami si tidak penting ‘masuk’ ke ruang direktur dan berkantor di sana? Atau karena si “tidak penting” menurut si B tidak mau masuk ke ruang Keuangan? Atau karena suara “tidak penting” yang sering didengarkan Bos, dan Bos bertindak mempertimbangkan pendapat “tidak penting” yang menurut si B itu sebagai bentuk pilih kasih Bos?

Kalau memang itu alasannya, "tidak penting" kasihan sekali dengan si B yang mau berepot-repot mengotori hatinya selama ini dengan asumsi-asumsi tentang "tidak penting". Karena toh si B tidak pernah bertanya pada “tidak penting” masalah-masalah di atas. Dia hanya berasumsi dan akhirnya menyebarkan asumsi itu kepada orang-orang lain, membuat semua orang punya persepsi keliru tentang si “tidak penting” bahkan ke orang baru.

Sebagai penjelasan untuk hal-hal di atas:
1. Si “tidak penting” sebenarnya tidak pernah minta uang ganti taksi ke kantor. Secara pribadi, “tidak penting” minta pada Bos untuk mengganti uang taksi dengan uang Bos pribadi, karena ia tahu, jika minta ke kantor pasti akan muncul polemik (terbukti kan?). Kalau akhirnya Bos reimburst ke kantor, itu di luar kehendak si “tidak penting”. Bukan karena si “tidak penting” tidak mau masuk ke ruang Keuangan. Hanya karena memang urusan uang taksi menurut “tidak penting” ia minta pada Bos secara pribadi. Yang akhirnya selalu membuat "tidak penting" kecewa saat ia diacungi form reimburst untuk ditandatangani, oleh Bos.

2. Suami “tidak penting” masuk dan berkantor di ruang direktur bukan karena suami “tidak penting” pengen jadi direktur. Tapi waktu itu karena semua meja penuh, dan Bos sendiri yang menawarkan untuk berbagi ruang. Jangan kira suami “tidak penting” bahagia dengan kondisi itu. Karena ia tahu, apa yang tampak, selalu diterjemahkan sebagai hal yang berbeda di kantor, tanpa usaha untuk klarifikasi pada yang bersangkutan.

3. Mengenai suara yang didengarkan, sebaiknya kita kembalikan ke duduk permasalahan. Seorang Bos tidak bodoh. Kalau bodoh ia tidak akan bisa dipercaya menjadi Bos. Jika ia mendengarkan “tidak penting” itu karena apa yang dibicarakan “tidak penting" logis dan masuk akal, dan didasari pada keinginan untuk melihat kondisi kantor yang lebih sehat. Jika akhirnya diterima sebagai bentuk pilih kasih Bos, itu karena B tidak mau susah-susah klarifikasi, hanya ngrasani di belakang, sehingga opini tidak terbentuk dengan objektif. Tanpa B tahu, Bos juga sering tidak sependapat dengan "tidak penting". Tapi hal itu tidak untuk diketahui semua orang, kan?

“Tidak penting” tahu soal ia tidak disukai B bahkan mungkin sejak 2006, meski alasan tidak sukanya itu tidak berhasil ditemukan (karena B memang tidak punya alasan kuat!). “Tidak penting” tadinya menganggap itu tidak perlu dipermasalahkan, karena rasa tidak suka itu manusiawi. Kita tidak bisa memaksakan hati. Tapi kalau hal itu diangkat ke orang lain, itu lain perkara. Apalagi jika alasannya tidak masuk akal. May God bless her.

“Tidak penting” sudah berusaha bersabar dengan tingkah B sejak lama. Jangan dikira jika suatu hal tidak diungkap, itu berarti karena “tidak penting” tidak tahu. Tapi itu karena “tidak penting” menganggap itu gak worth it, dan gak nganggu alur kerja. Jangan dikira pengetahuan “tidak penting” hanya berasal dari A saja. Karena seperti ungkapan klise yang sering kita dengar, “Dinding bisa punya telinga”. Dan banyak orang kantor yang dengan suka rela tanpa ditanya memberikan informasi mengenai topik pembicaraan B selama ini tentang “tidak penting”.

Tapi kalau melihat perilaku B, kelihatannya B bahkan tidak bisa membedakan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan di kantor. Mau bukti?

Pekerjaan editing yang harusnya masuk ke “tidak penting” repot-repot dikerjakan sendiri oleh B karena ia tidak mau mencoba berkoordinasi dengan ”tidak penting” dengan risiko kemungkinan kesalahan, dan kerepotan. Itu bukan perilaku yang profesional, bukan?

Karena urusan kerjaan itu bukan “bantuan”. Tapi “kewajiban”. Jadi memang “tidak penting” wajib mengerjakan pekerjaan itu (jika ia tahu). Dan itu sebenarnya tidak akan mengganggu niatan untuk tetap "tidak penting berteman”. Jangan harap "tidak penting" meminta pekerjaan, karena urusan alur kerja, perpindahan job, itu tugas B. "Tidak penting" tidak bakal tahu keberadaan kerjaan jika tidak ada yang memberitahu. Tapi for the sake of professionalism, "tidak penting" tidak akan menolak job apapun yang masuk, meski itu datang dari orang yang membenci "tidak penting".

Mungkin ini memang tidak penting dibahas. Tapi kalau akhirnya jadi perpecahan, mungkin tradisi ngrasani sebaiknya dihapuskan. Mungkin yang ngrasani tidak merasa ia/mereka melakukannya. Tapi kalau kita membicarakan hal-hal tentang orang lain di belakang orang itu, namanya tetap ngrasani. Apalagi kalau akhirnya topik itu bisa didengar objek rasanan dan menimbulkan masalah tambahan.

Urusan kantor sebaiknya tetap jadi urusan kantor. Jangan dijadikan urusan pribadi. Kalau ada masalah dengan alur kerja di kantor, lakukan konfirmasi, bukan hanya mancing-mancing jawaban tanpa ketahuan background jelasnya.
Contohnya saat "tidak penting" berkali-kali ditanyai oleh orang berganti-ganti (dan sering diulang tanya lagi) masalah "sebenarnya ongkos taksi dari rumah ke kantor itu berapa sih?". "Tidak penting" tahu, para penanya pengen "tidak penting" terjerumus dan menjawab, (mungkin) "sepuluh ribu". Padahal selama ini klaim taksi yang masuk 50rb. Hmm ... mungkin para penanya itu sebaiknya sekali-kali ikut pulang "tidak penting" agak bisa membuktikan sendiri.

Mau tahu efek buruk dari hal di atas? Seperti di atas inilah salah satu efeknya.

Apa yang "tidak penting" tahu dari A, bukan penyebab terpecah-belahnya kantor, karena "tidak penting" sudah tahu hampir semua masalah yang dikatakan A jauh sebelum A mengatakan apapun. bahkan sampai sekarang pun ada hal-hal yang belum dikatakan A yang sudah "tidak penting" tahu. Tapi sejak awal "tidak penting" memang berusaha untuk tidak mengangkatnya.

Apa yang kemarin muncul di FB "tidak penting", itu hanya untuk kalangan "teman" si "tidak penting". Hanya ungkapan kemangkelan sesaat karena insight yang didapat secara tiba-tiba. Sebenarnya itu tidak akan mengubah bentuk (tanpa) hubungan antara "tidak penting" dengan B. Basa-basi masih bisa jalan terus, karena itu tidak berpengaruh apapun. Apapun yang B katakan, selama ini tidak pernah memberi pengaruh apalagi sampai mencederai "tidak penting". Hal di atas (mengenai ketidaksukaan B), tidak akan menjadi perkecualian.

Karena itu hanya lagu lama yang didendangkan penyanyi berbeda.


Rabu, 13 Oktober 2010

Apakah mahasiswa memerlukan mata kuliah Sopan-santun?



Kalau pertanyaan itu ditanyakan pada aku saat ini, maka jelas jawabanku adalah: TENTU SAJA, STAT! URGENT!

Aku ingat, beberapa hari yang lalu si Bob yang baru 5 tahun komplen, “Kok aku disuruh-suruh terus, diatur-atur terus, Ma? Terserah aku dong!”
Aku tanya, “Memangnya kenapa Sayang?”
Bob menjawab, “Bosen! Aku kan pengen semua terserah aku!”
Oke. Lalu aku jelaskan, bahwa dia baru 5 tahun. Anak seumur dia sampai lulus SMA adalah anak yang ada di masa belajar bertanggung jawab dan belajar disiplin. Anak di rentang usia tersebut belum bisa diandalkan untuk membedakan antara benar dengan salah, baik dengan buruk, pantas dengan tidak pantas.
Dan Bob kembali bertanya, “Disiplin itu apa?” Hmm, aku terangkan, bahwa disiplin itu adalah mampu mengikuti aturan yang ada, mampu mengatur diri sendiri.
Masih penasaran, ia kembali bertanya, “Lalu kapan dong aku bisa disiplin?”
Waduh. Akhirnya aku jelaskan, disiplin itu musti dilatih. Itulah mengapa anak seusia dia sampai lulus SMA harus mengikuti aturan orangtua dan guru. Karena orangtua dan guru lah pihak-pihak yang menanamkan disiplin, tanggung jawab, sopan-santun, dan budi pekerti.
“Lalu kalo sudah lulus SMA?” kejar Bob.
“Anak yang sudah lulus SMA, anak kuliah, biasanya diharapkan sudah mampu untuk belajar mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab. Mereka harus mulai menerapkan aturan untuk diri sendiri. Berangkat dan bangun tidur tidak diatur, belajar tidak diatur. Nanti kalo sudah lulus kuliah dan kerja, diharapkan mereka sudah siap menjadi orang yang benar-benar disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab.”
Di sini Bob mulai berusaha memahami.

Sayangnya ternyata selama beberapa bulan terakhir ini aku justru membuktikan sendiri kalo teoriku bahwa anak kuliahan sudah memiliki sopan santun dan pantas untuk mulai diberi kebebasan mengatur kemandirian, kedisiplinan, serta tanggung jawab adalah salah. Anak kuliahan juga aku buktikan sendiri masih jauh dari standar moral dan pekerti yang berlaku di masyarakat umum. Pendapat ini aku dapat setelah aku mengalami sendiri rendahnya nilai-nilai dasar manusiawi yang dimiliki anak kuliahan jaman sekarang (maaf, mungkin pendapat ini mengandung generalisasi).

Mari aku ceritakan dua peristiwa yang mendasari generalisasi ini:
1. Ini tentang satu kampus di mana aku ngajar mata kuliah Komunikasi Periklanan saat semester ganjil dan Manajemen Periklanan saat semester genap.
Jumlah mahasiswanya hanya enam orang. UAS tiba. Dua minggu sebelum jadwal ujian mata kuliah yang aku ampu, aku memberikan tugas sebagai pengganti ujian dengan catatan tugas tersebut harus dikumpulkan pada hari dan jam ujian. Lembar tugas aku bagikan disertai satu soft copy untuk file bagian Pengajaran. Saat hari ujian tiba, tak ada seorang pun mahasiswa yang hadir dan menyerahkan ujian (untung aku tidak menunggui sendiri ujian tersebut) tanpa ada pemberitahuan apapun. Mereka baru mengumpulkannya dua minggu setelah tanggal ujian.
Baik, aku maafkan sekali ini. Dan semester berikutnya kami bertemu lagi di mata kuliah Manajemen Periklanan. Kami kembali menjalani perkuliahan dengan lancar, meski masalah kesukaan mereka membolos bareng-bareng kembali jadi salah satu hal yang menggangguku. Bayangkan saja, apa mereka tidak bisa berpikir untuk sekedar menelpon memberitahukan bahwa mereka tidak bisa masuk kuliah? Apa mereka tidak bisa berempati membayangkan pengajar yang bersusah payah meluangkan waktu untuk memberi tambahan ilmu, harus kecewa saat datang ke kampus dan menemui kelas yang kosong melompong? Pengalaman ini ternyata juga dialami dosen-dosen yang lain.
Saat UAS. Ternyata modus ketidaksensitifan mereka tersebut berulang lagi di UAS Manajemen Periklanan. Aku tunggu sampai seminggu setelah hari ujian, tetap tidak ada yang mengumpulkan tugas. Aku sampaikan ultimatum lewat bagian Pengajaran, bahwa aku sudah tidak akan mengambil tugas mereka ke kampus. Jadi aku persilakan yang menginginkan nilainya tetap keluar untuk mengumpulkan tugas mereka ke kantorku. Mereka akhirnya mengumpulkan tugas dua minggu setelah hari ujian. Nilai pun aku keluarkan dengan memberi nilai minimal untuk tugas UAS mereka, sehingga satu dari enam orang mahasiswa tersebut tidak lulus. Yang lainnya lulus dengan nilai mepet.
2. Pengalaman selanjutnya terjadi baru dalam minggu ini. Tentang satu kampus di mana aku mengajar Manajemen Periklanan di semester ganjil dan Copywriting di semester genap.
Di awal perkuliahan Manajemen Periklanan, aku memberikan tugas review buku bagi 38 peserta didik. Seminggu kemudian sebagian besar dari mahasiswa mengumpulkan tugas, meski kebanyakan masih bingung dan kurang memuaskan hasilnya.
Oke, itu bukan masalah karena aku bisa memberikan solusi perbaikan nilai. Perkuliahan pun aku anggap berjalan cukup lancar setelahnya. Kemarin, aku iseng dan sengaja membuka-buka profile-profile mahasiswa peserta Manajemen Periklanan tersebut di Facebook. Bukan pekerjaan yang gampang, karena belum ada satu pun yang masuk ke dalam friends list-ku dan kebanyakan menggunakan nama-nama samaran yang bahkan untuk melafalkannya pun sulit. Tapi aku punya satu dan lain cara untuk mencocokkan track mereka, dan masalah ini bukan intinya kok.
Singkat cerita, di salah satu profile ada yang menulus status JUNGLE BITCH ... JAM YAH MENE TUGASE LG RAMPUNG, ASYU ... GEK KERTAS QUARTONE ENTEK SISAN. JINGAN2 ... Banyak tanggapan yang masuk. Salah satunya dari teman dia (peserta manajemen Periklanan juga) yang menanyakan apa dia sudah selesai dengan tugas yang aku berikan. Tapi ia memberikan embel-embel ‘nggateli’ di depan namaku.
Aku kaget banget baca itu. Karena:
a. Seumur-umur aku ngajar di kampus tersebut (mahasiswa angkatan-angkatan sebelumnya), belum pernah ada mahasiswa yang bersikap tidak sopan terhadapku. Selama ini kami berhasil menjalin hubungan saling menghormati.

b. Baru pertemuan pertama oknum tersebut sudah berani menempelkan kata super kasar/kurang ajar/nggak sopan kepada aku? Apa pengalaman interaksinya sudah cukup untuk itu?
c. Tugas aku berikan untuk bekal pemahaman mereka di pertemuan-pertemuan selanjutnya. Tugas tidak aku berikan karena aku iseng atau pun aku secara subjektif ingin menyiksa mahasiswa.
d. Tugas itu hanya review buku, for God’s sake! Apa sih dari review buku yang layak diberi umpatan ‘nggateli’?
e. Mahasiswa menggunakan kata-kata umpatan dan kasar di forum yang bisa dibaca orang banyak? Apa bagusnya? Apa bangganya?
f. Last but not least, kita semua tahu Facebook adalah forum umum. Dan banyak kasus yang menceritakan orang-orang terperosok masalah pencemaran nama baik, penghinaan, dll di micro blog ini. Tidakkah ybs belajar dari berita-berita yang ada?

Ingat tidak, disiplin, budi pekerti, sopan-santun, dan rasa tanggung jawab yang aku sebut di atas? Terasa banget kalau orangtua berandil besar dalam penanamannya. Nah, apa aku salah jika aku mempertanyakan orangtua jenis apa yang membesarkan para mahasiswa tersebut di contoh? Apa perlu kampus mempertimbangkan sopan santun dan budi pekerti untuk dimasukkan dalam silabus perkuliahan? Karena ternyata bekal yang selama ini mereka dapat masih sangat kurang.
Aku menganggap hal ini terjadi karena kegagalan pengasuhan dari orangtua dan kegagalan pendidikan di jenjang sebelumnya.
Dengan contoh seperti di atas, bisa dibayangkan atau tidak, bagaimana kacau-balaunya dunia kerja yang bakal mereka masuki? Bagaimana kagetnya partner kerja yang mereka temui? Bagaimana shock-nya klien yang harus menghadapi?

Sebagai catatan saja: aku mengajar di mana pun, karena kampus yang memintaku. Tak ada latar belakang finansial yang menjadi dorongan, meski tentu saja ada biaya transportasi yang wajib ditanggung kampus. Waktu yang banyak tersita, emosi ekstra yang harus disiapkan, pikiran yang harus diperas-peras adalah konsekuensi yang sama sekali tak bisa diukur dengan uang. Apalagi aku masih aktif bekerja di sebuah perusahaan periklanan.
Kepuasanku hanya bisa diperoleh dengan keaktifan mahasiswa di ruang kuliah, usaha dan nilai yang mereka dapatkan, pengakuan dari pihak luar atas prestasi yang mereka capai, serta senyum tulus yang mereka berikan untuk ilmu praktis yang diterima yang memang tidak tersedia di kampus. Niat awal mengajar adalah untuk berbagi ilmu mengharap berkah Allah dari keikhlasan yang selalu aku coba lakukan.

Apakah aku harus mengkaji ulang motifku?

Kamis, 07 Oktober 2010

Memahami konsumen butuh pemahaman ekstra

Mendengarkan adalah kerjaan yang pasif. Secara skill-pun, mendengarkan membutuhkan skill yang lebih rendah dari berbicara. Tapi di dunia yang berhubungan langsung dengan pelanggan, ternyata skill mendengarkan lebih sulit untuk diterapkan. Padahal, mendengarkan adalah kunci pertama menuju pemahaman.

Aku suka banget dengan artikel buatan temanku, Bambang Sukma Wijaya yang sudah pernah dia posting di blog dia sendiri. Berhubung nyari link-nya kok susah banget (dan aku sudah pernah ngopi ke MS Word), jadi maaf ya Bambang ... copasnya gak pake share link. hehehe. Intinya aku hanya pengen mengingatkan (diri sendiri) kalo nulis iklan bukan hanya kemampuan menyusun deretan kata-kata indah. Nulis iklan juga bukan hanya kemampuan bikin headline dan tagline yang ngebom. Tapi nulis iklan lebih banyak mementingkan kemampuan memahami pemasaran, pengetahuan tentang brand, dan pengetahuan tentang si target audience (si raja) itu sendiri


Have you ever been fed up to the children’s act? They’re crying when you don’t give what they want. They protest when you don’t put enough attention. Like children, consumers are also having the same characters. Of course the consumers are not our beloved children, but, unfortunately, they–as the traditional wisdom says—are the king. So, we have to understand their characters in order to preserve them.

I’m very important

Look at a consumer who attends a shop. They want to be served especially, even they only look around or just window shopping. They want to be always being heard, and if they feel ignored, they would sulk.
Like a child, they will show their dislike or do something annoying to get our attention, such as complain in yelling or write to newspaper with words full of hatred, and then they moved to other shop or brand to express their protests. They mope because we had failed to make them the very important attentively, treat them with care, and the most important, love them.

My own must be better than my friend’s

Ichal, an employee who offices at Menteng, just changed his cellular to the latest model as he
and actually she doesn’t really need the feature also. “I just want to try it while it was in the
free-tariff promo and wanted to show my sophisticated phone,” she said as she laughs.
Rahmat Susanta, editor in chief of Marketing magazine has approved upon the facts.
According to him, the consumers sometimes ask for features that not exist in their product while their friend’s or other people’s have it, even they might not need or use the features it self. “They envy if other people’s have more,”

In the telecommunication market, we can see many costumers complain, either about the operator (service provider) or the handset. Our research revealed that some respondents have moved from one operator to other operator as their complain. And when we ask them, they really have a lot of expectations on their chosen operator service. The tariff must be low, the credit Reload must be easy, the network has to be excellent, and it has to have a lot of bonuses and features, and so on. There is no other way to win their heart except understanding them like we
understand our own child. It means we listen to them seen it in a magazine. He assured
that his friends have not having one of those. “It feels cool to own something that others haven’t own it,” he revealed as he shows his Nokia E90. Erna, a MarkComm Mercu Buana University student, revealed that she has moved recently to another operator because it offers more
sophisticated 3G services than her friend’s operator, even that means she had to buy a new handset that provide 3G which is more expensive. When her friends only make calls and send SMS, she does video call and chatting. It makes her proud. But now, she doesn’t use the 3G services anymore because the promo has ended and the operator are now charging the service,
Susanta said. He gave an example of many people has chosen operator with free roaming service, even though 90 percent of them are rarely out of town. That’s why we have to be
smart on reading what the consumer wants. It might be unrealistic and frustrating, but
that’s how a child does. “They always demand what they wants or needs are available in
time,” Susanta adds.

So, if we have the patience or experience of taking care children, we probably could
successfully handle our consumers. Let’s prove it!